Jumaat, 2 Julai 2010

QOLBU ADALAH INTI ROH...

Dalam kitab ‘Sirr al-Asrar’ yang berisi kumpulan ajaran Syaikh Abdul Qadir al-Jilani didapati keterangan bahwa pada awalnya manusia dicipta oleh Allah SWT di alam lâhût (alam dimensi ketuhanan). Manusia awal itu adalah manusia yang masih berwujud ruh (jiwa) yang sangat murni, yang disebut rûh al-quds.

Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia).

Allah SWT adalah cahaya (QS an-Nûr 24). Ruh al-Quds yang dicipta langsung oleh Sang Cahaya pun mengandung cahaya yang sangat murni, yang memiliki tingkat radiasi sangat tinggi.

Dalam kitab itu juga dikatakan bahwa alam memiliki lapis-lapis dimensional yang berbeda:

1. Alam Lâhût, alam dimensi ketuhanan.
2. Alam Jabarût, alam ilmu, ketentuan, rencana dan takdir.
3. Alam Malakût, alam para malaikat, alam ruh, alam enerji.
4. Alam Mulki, alam fisik, alam nyata.

Ketika Rûh al-Quds akan diturunkan dari alam lâhût ke alam jabarût ia dibalut lebih dulu dengan lapisan Ruh as-Shulthâny. Sebab kalau tidak, radiasi cahaya Ruh al-Quds yang sangat murni dan teramat kuat itu akan membakar semua yang ada di alam jabarut. Ruh as-Sulthany adalah mantel (hijâb) bagi Ruh al-Quds. Ruh as-Shulthany disebut juga dengan Fuâd.

Lalu Ruh al-Quds (Sirr) yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fu’ad) diturunkan ke alam level-3, yaitu alam malakût. Namun alam malakut lebih materialized daripada alam-alam sebelumnya, dan apa yang ada di dalamnya akan mudah terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds meskipun sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany. Oleh sebab itu sebelum diturunkan ke alam malakut, Ruh al-Quds yang sudah dengan Ruh as-Sulthany, dibalut lagi dengan Rûh ar-Rûhâny. Ruh lapis ketiga ini disebut juga Qalbu.

Selanjutnya Ruh al-Quds (Sirr), yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fuad) dan Ruh ar-Ruhaniyah (Qalbu), diturunkan lagi ke alam level-4 yaitu alam mulki. Inilah alam kosmik yang sekarang dapat kita lihat secara visual dengan mata kepala kita. Alam kosmik wujudnya sangat lahiriah dan dapat dikenali secara empirik (terukur). Namun radiasi cahaya Ruh al-Quds, meski sudah dibalut dengan dua lapis ruh lainnya, masih terlalu tinggi bagi alam ini. Apa yang ada di alam mulki dapat terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds. Untuk itu, sebelum diturunkan ke alam mulki, Ruh al-Quds dibalut lagi dengan lapis ke-3 yaitu Rûh al-Jismâny yang untuk mudahnya sering disebut dengan Rûh saja. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut ini.
Alam Rûh (Nafs)
Lâhût Rûh al-Quds - Sirr
Jabarût Rûh as-Sulthany - Fu’ad
Malakût Rûh ar-Rûhâny - Qalbu
Mulki
Rûh al-Jismâny - Rûh

Diri (nafs) kita yang hakiki dalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam rûh ada qalbu, di dalam qalbu ada fuâd dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia. Sirr berisi rahasia-rahasia Allah untuk orang itu berupa sifat-sifat Allah, rencana dan takdir Allah. Sirr terhubung langsung dengan Allah SWT.

Dikenal pula istilah lubb yang jamaknya albâb. Surat Ali Imran ayat 130 menyebut Uli al-Albâb sebagai individu yang selalu berdzikir, berfikir, dan beribadah. Apa arti lubb? Kalau kita menebang sebatang pohon, lalu kita perhatikan penampang potongannya, akan terlihat di bagian tengah dari batang pohon itu ada bagian yang berwarna kecoklatan. Itulah inti dari batang pohon tersebut. Arab menyebutnya lubb.

Qalbu adalah lubb bagi ruh. Intinya ruh adalah qalbu, intinya qalbu adalah fu’ad, dan intinya fuad adalah sirr. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut Sirr al-Asrar (secret of the secrets). Namun untuk tahap permulaan mempelajari tashawuf cukuplah orang memahami ruh dan intinya saja, yaitu qalbu.

JANGAN SOMBONG KAMU GAJAHHHH!!!!

Seorang Syekh (Mursyid Thariqat) berceramah di depan para ulama dalam sebuah acara. Ceramah Beliau berisi tentang kehebatan Al Qur’an ditinjau dari segi ilmu metafisika eksakta. Diantara yang hadir termasuk salah seorang yang sudah banyak sekali mempelajari tentang segala hal yang berhubungan dengan Islam, mulai dari sejarah sampai kepada hokum-hukum Islam dan ayat-ayat Al-Qur’an sudah hapal diluar kepala juga telah membaca ratusan kitab-kitab klasik dan merasa dirinya sudah banyak tahu tentang agama dan menganggap ceramah Syekh itu masih sangat rendah dibandingkan dengan ilmu yang dipelajarinya. Dalam hati orang yang sombong tadi berkata, “Kalau begini ceramahnya, aku sudah banyak tahu, lebih baik Syekh itu turun aja dari mimbar”.

Seorang Syekh (Muryid) diberi kerunia oleh Allah SWT untuk mengetahui isi hati orang lain dikarenakan hatinya telah bersih sehingga mampu menangkap sinyal atau gelombang apa saja yang datang termasuk gelombang kesombongan yang dipancarkan dari hati ulama itu. Tiba-tiba Tuan Syekh berkata, “Sekarang aku mau cerita tentang gajah. Ada seoekor gajah yang besar badannya. Suatu hari ada orang yang mau memberikan minum kepada sekawanan gajah termasuk gajah yang besar tadi dengan memakai selang air sebesar kelingking. Sang gajah protes, Bagaimana mungkin kami bisa cukup minum dari selang yang kecil ini, untuk saya sendiri saja tidak cukup”. Tuan Syekh tadi diam setelah ceritanya sampai kepada gajah besar yang protes, tiba-tiba Beliau berkata sambil menunjuk ulama yang sombong tadi, “Jangan kau sombong gajah, selang ini memang hanya sebesar kelingking, akan tetapi selang ini tersambung langsung dengan lautan yang sangat luas, seribu gajah sepertimu tidak akan sanggup menghabiskan air ini”. Orang yang di tunjuk tadi merasa tersindir dan malu, kemudian menyadari bahwa apa yang terlintas dalam hatinya diketahui oleh Syekh, dan setelah acara ceramah ulama tadi mendatangi Tuan syekh dan menyatakan diri ingin berguru. “Pandangan mata batin tuan tajam sekali, saya mohon maaf atas kesombongan saya dan mohon sudi kiranya tuan menerima saya menjadi murid”.

Seorang Guru Mursyid kadangkala secara zahir nya sama seperti manusia lain tidak terkecuali bentuk ceramahnya, akan tetapi setiap yang diucapkannya memgandung Nur Ilahi yang tersambung langsung kehadirat Allah SWT lewat “selang-Nya” sehingga apapun yang diucapkan oleh Guru Mursyid merupakan ucapan Allah SWT.

Bagi pengamal thariqat, tidak terkecuali saya sendiri, seringkali mengalami hal-hal yang ajaib saat bersama Guru Mursyid. Bimbingan yang diberikan oleh Guru Mursyid berbeda sekali dengan bimbingan yang diberikan oleh Guru pada tataran syariat. Seorang Mursyid sangat mengetahui isi hati dari muridnya, sehingga walaupun jumlah muridnya ribuan bahkan jutaan pelajaran yang diberikan tidak sama.

Seringkali Mursyid berceramah dan didengar lebih seratus orang, nanti ke-seratus orang itu akan mengambil kesimpulan yang berbeda. Seorang Guru Mursyid yang kamil mukamil bahkan membimbing dan menuntun muridnya secara 24 jam, zahir dan batin dan tidak mengenal tempat karena sesungguhnya rohani dari Guru Mursyid itu telah larut kedalam zat dan fi’il Allah sehingga seluruh gerakannya adalah gerakan Tuhan semata.

Seringlah kita ucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas karunia yang tidak terhingga yang telah memperkenalkan seorang kekasih-Nya kepada kita dan lewat kekasih-Nya itu pula terbuka dengan lebar sebuah pintu yang langsung berhubungan dengan Allah SWT.

Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat lengkap tentang Para Guru Mursyid sebagai orang-orang yang diberi izin oleh Allah SWT untuk membimbing manusia ke jalan-Nya.

“Dan kami jadikan mereka ikutan untuk menunjuki manusia dari perintah kami dengan sabar serta yakin dengan keterangan Kami” (Surat Asajadah, ayat 24 juz 21).

“Mereka itulah orang yang telah diberi Allah petunjuk, maka ikutlah Dia dengan petunjuk itu” (Surat An Am ayat 10 juz 7)

“Barangsiapa yang berjanji teguh dengan engkau (Dia) sebenarnya mereka telah berjanji teguh dengan Allah, tangan Allah diatas tangan mereka” (Surat Al Fathu ayat 10 juz 26).

Guru Mursyid membimbing murid-muridnya tanpa pamrih dan bukan semata-mata mengharapkan harta, beliau membimbingnya dengan ikhlas tidak peduli siapapun kita, dari mana kita berasal, anak siapa kita tetap akan dibimbing oleh Beliau dengan kasih sayang dan penuh keikhlasan. Ini digambarkan dalam al-Qur’an :

“Ikutilah orang yang tiada meminta upah kepadamu itu, karena mereka mendapat pimpinan yang benar” (Surat Yasin ayat 21 juz 23)

Semoga kita semua diberi karunia oleh Allah SWT untuk menerima Nur Ilahi sebagai sumber kebenaran hakiki lewat dada seorang Kekasih Allah yang akan membimbing kita dari dunia sampai akhirat, Amien ya Rabbal ‘Alamin

Khamis, 1 Julai 2010

PENCIPTAAN NUR MUHAMMAD

Suatu hari Sayidina Ali, karam Allahu wajhahu, misan dan menantu Nabi Suci SAW bertanya, " Wahai ( Nabi) Muhammad, kedua orang tuaku akan mrnjadi jaminanku, mohon katakan padaku apa yang diciptakan Allah ta'la sebelum makhluk ciptaan? Beliau menjawab : Sesungguhnya, sebelum Rabbmu menciptakan lainnya, Dia menciptakan dari Nur-Nya nur Nabimu."
Di Hadist yang lain, yang diriwayatkan dari Abdurrazaq ra yang diterimanya dari Jabir ra, bahwa Jabir pernah bertanya kepada Rasulullah saw, " Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, apakah yang mula-mula sekali Allah jadikan? Rasulullah menjawab : " Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu adalah nur Nabimu dari Nur-Nya." Nur Muhammad itu sudah ada sebelum adanya segala sesuatu di alam ini. Nur Muhammad dianugerahi tujuh lautan : Lautan Ilmu, Lautan Latif, Laut Pikir, Laut Sabar, laut Akal, Laut Rahman, dan laut Cahaya.
Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat bagian. Dari bagian pertama, Dia (Allah) menciptakan Pena, dari bagian kedua Lauh al- Mahfudz, dari bagian ketiga 'Arsy. Kini telah diketahui bahwa ketika Allah menciptakan lauh al-mahfusz dan Pena itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua sampul adalah sejauh dua tahun perjalanan. Allah kemudian memerintahkan Pena untuk menulis, dan Pena bertanya, " Ya Allah, apa yang harus saya tulis?" Allah berfirman, Tulislah : LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADAN RASULULLAH.

Atas itu Pena berseru, "oh, betapa sebuah nama yang indah, agung Muhammad itu bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang suci, ya Allah". Allah kemudian berfirman, "Wahai Pena, jagalah kelakuanmu! Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya Aku menciptakan 'Arsy dan Pena dan Lauh al-mahfudz; kamu juga diciptakan dari Nurnya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun. Ketika Allah SWT telah mengatakan kalimat tersebut, Pena itu terbelah dua karena takutnya kepada Allah, dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup/ terhalang, sehingga sampai saat ini ujungnya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia Ilahiah yang Agung.
Kemudia Allah memerintahkan Pena untuk menulis " Apa yang harus saya tulis, Ya Allah? bertanya Pena. Kemudian Rabb al Amin berkata, " Tulislah semua yang kan terjadi sampai hari Pengadilan! Berkata Pena, " Ya Allah, apa yang harus saya mulai?" Berfirman Alah, " Kamu harus memulai dengan kata-kata ini : Bismillah al- Rahman al-Rahim. Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Pena bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Kitab (lauh al-Mahfudz), dan dia menyelesaikan tulisan itu dalam 700 tahun.

Ketika Pena telah menulis kata-kata itu, Allah SWT berfirman, " Telah memakan waktu 700 tahun untuk kamu menulis tiga Nama-Ku; Nama keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan Empati-Ku. Tiga kata-kata yang penuh barokah ini Aku( ALLah) buat sebagai sebuah hadiah bagi ummat Kekasih-Ku Muhammad. Dengan Keagungan-Ku, Aku berjanji bahwa bilamana dengan niat yang murni, Aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuk abdi tadi, dan 700 tahun dosa akan Aku hapuskan.
Sekarang Bagian keempat dari NUR itu Aku bagi lagi menjadi empat bagian : dari bagian pertama Aku ciptakan Malaikat PEnyangga Singgasana (hamalat al- 'Arsy), dan bagian kedua Aku telah ciptakan KUrsi, majelis Ilahiah ( Langit atas yang menyangga Singgasana Ilahiah,'Arsy); dan bagian ketiga Aku ciptakan seluruh malaikat(makhluk) langit lainnya; dan bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian : dari bagian pertama Allah membuat semua langit, dari bagian kedua Aku membuat bumi-bumi, dari bagian ketiga Allah membuat JINN dari api. Bagian keempat Allah bagi lagi menjadi empat bagian: dari bagian pertama Allah membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; dari bagian kedua Allah membuat cahaya di dalam jantung mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; dari bagian ketiga cahaya bagi lidah mereka yang adalah cahaya Tauhid ( Hu Allahu Ahad), dan dari bagian keempat Allah membuat berbagai cahaya dari Muhammad SAW. Ruh yang cantik ini diciptakan 360.000 tahun sebelum penciptaan dunia, dan itu terbentuk sangat cantik dan terbuat dari bahan yang tak terbandingkan.

Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari keendahan hati. Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah). Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan, pipinya dari sinta dan kehati-hatian, perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan, kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus, dan jantungnya yang mulia dipenuhi dengan rahman. Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kemudian Allah SWT menciptakan sebuah pohon yang dinamakan Syajaratul Yaqin. Tangkainya berjumlah empat. Kemudian diletakkan Nur Muhammad pada pohon tersebut. Namun, kehadiranNur Muhamad, itu membuat pohon bergetar hebat hingga berubah menjadi permata putih. Sedangkan Nur Muhammad memuji bertasbih kehadirat Allah Ta'la 70.000 tahun lamanya.Pada permata tersebut, Nur Muhammad mencoba bercermin. Wajahnya begitu indah dilihat. Bentuknya seperti burung merak, dan pakaiannya demikian indah. Dihiasi dengan berbagai perhiasan. Kemudian bersujud lima kali. Allah SWT melihatnya, membuat Nur tersebut merasa malu dan takut. Lalu keluar keringatdari kepalanya.dari keringat tersebut Allah SWT menciptakan Nyawa malaikat. Dari keringat wajahnya, diciptakanlah 'Arsy, matahari,bulan, bintang,dan apa-apa yang ada di langit. Keringat dadanya menjadi bahan untuk menciptakan nyawa para rasul, nabi,wali, ulama, dan orang-orang shaleh. Adapun keringat yang muncul dari keningnya, diciptakanlah nyawa orang-orang mukmin dari ummat nabi Muhammad saw.dari keringat kedua telinganya, diciptakanlah oleh Allah SWt nyawa orang-orang Yahudi, nasrani, dan orang-orang kafir, dan sesat. Sedangkan keringat kakinya di antaranya menjadi isi bumi. Kemudian Allah SWT menciptakan lentera akik yang merah yang cahanya menembus kedalam dan keluar. Lalu Nur Muhammad dimasukkan ke dalam lentera tersebut. Berada di dalamnya dalam posisi berdiri. Sementara nyawa-nyawa yang sudah tercipta berada di luar. seluruhnya membaca, " SUBHANALLAH WAL HAMDULILLAHI WA LAA ILAAH ILLALLAAHU WALLAHU AKBAR." 1.000 tahun lamanya nyawa-nyawa itu diperintahkan Allah SWT untuk melihat ke diri Nur Muhammad.

Rabu, 30 Jun 2010

Roh Jiwa dan Nafs

Saya sering mendapati kata-kata atau kalimat bahasa Malaysia yang tidak mampu mengisi makna atau padanan kata yang sesuai dengan bahasa Arab, Inggeris, dan Perancis.
Sehingga sampai sekarang kita terkadang bingung dengan istilah-istilah asing yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Malaysia menjadi rancu dan aneh. Seperti pada kata qalb, diterjemahkan menjadi hati, hati kecil, hati nurani dan lain-lain seakan-akan hati itu ada beberapa macam lapisan, sebenarnya qalb itu sifat dari jiwa, sedangkan jiwa itu termasuk An nafs (badan, susuk, wujud / berwujud / berbentuk / berupa). Disini orang kebanyakan keliru, "An nafs" hanya diertikan jiwa, padahal badan fizikal ini pun disebut An nafs (susuk, wujud kasar/ badan kasar).
Roh adalah rahsia Tuhan yang di tiupkan kepada nafs (jiwa atau badan). Roh ini menyebut dirinya AKU, yang disebut bashirah (yang mengetahui atas jiwa, qalb, fizik dan lain-lain. - lihat tafsir Shafwatut Attafaasir surat Al qiayamah: 14 )
Baiklah agar tidak bingung, mari kita bahas satu persatu menurut dalil qoth'i.
Apakah roh itu ??
Mengapa Allah merahsiakan Roh dan mengaitkannya dengan Roh-Nya, dan didalam Alqur'an termasuk kelompok ayat-ayat mutasyabihat (makna yang dirahsiakan), kerana pada ayat tersebut terdapat kalimat Roh manusia adalah Roh yang ditiupkan dari ROH-KU (Min ruuhii) erti harfiahnya adalah Roh milik Allah. Akan tetapi para mufassir menterjemahkan Roh ciptaan Allah. - saya tidak berani menafsirkan kerana dari segi tata bahasa ayat ini termasuk kalimat muatasyabihat, tidak ada menunjukkan bahawa Roh itu ciptaan Allah, kerana itu saya tidak berani menterjemahkan kalimat ini - sebab Allah sendiri melarang meraba-raba atau mereka-reka seperti apa roh itu .Kecuali hanya boleh merasakan bahawa di dalam diri ini ada yang melihat (bashirah) setiap gerak-gerik jiwa dan pikiran serta perasaan kita. Dan bashirah bersifat fitrah (suci) kerana ia selalu bersama dan mengikuti amr-amr (perintah) Tuhannya .
"Maka apabila telah Aku menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Al Hijr,29)
An Nafs adalah yang memiliki bentuk atau wujud atau susuk yang tergambarkan, yang diciptakan dari unsur alam iaitu min sulaatin min thiin (ekstrak alam), sedangkan Roh bukan tercipta dari unsur alam ataupun dari unsur yang sama dengan Malaikat mahupun Jin, sehingga mereka hingga kini tidak mengetahui dari unsur apa roh manusia diciptakan. Bahkan Allah membiarkan para Malaikat dan Syaitan tak berhenti berfikir penasaran, apakah gerangan yang menyebabkan manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dari bangsa malaikat dan Syaitan serta makhluk-makhluk yang lainnya, Allah hanya berkata : "Inni a'lamu maa laa ta'lamuun … Aku lebih mengetahui dari apa-apa yang kalian tidak ketahui." (QS. Al Baqarah: 30). Para malaikat protes atas kebijaksanaan Allah yang dianggap tidak masuk akal, dengan perasaan ragu mereka akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya kepada Allah … ataj'alu fiiha man yufsidu fiiha wayasdikuddimaa' wanahnu nussabbihu bihamdika wanuqaddisulaka ?? Mengapa Engkau hendak menjadikan ( khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakkan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?? Tuhan berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah: 30 )
Rahsia roh ini ditegaskan oleh Allah dalam surat Al Isra' :85
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh, katakanlah : Roh itu termasuk urusan-Ku (amr-Tuhanku) dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit ."
Seperti apa yang sebutkan diatas saya tidak berani menafsirkan, apakah Roh itu, apalagi menterjemahkan sebagai Roh ciptaan-Ku. Saya akan tetap mengikuti erti lafadz aslinya iaitu Ruuhii (Roh-Ku) kerana disana disebutkan kalian tidak memiliki pengetahuan tentang Roh kecuali hanya sedikit sekali.
Dan roh ini memiliki sifat yang Mengetahui, seperti pada surat :Al qiyamah ayat : 14
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri (nafs). Di dalam nafs (diri) manusia ada yang selalu tahu, iaitu Aku. Iaitu Roh manusia yang menjadi saksi atas segala apa yang dilakukan nafsinya (diri). Ia mengetahui kebohongan dirinya (nafs), kemunafikan, rasa angkuhnya, dan rasa kebencian hatinya. Kerana itu sang roh disebut min Amri rabbi - selalu mendapatkan intruksi-instruksi Tuhan-Ku. Mengapa demikian, - kerana ia tidak pernah mengikuti kehendak nafsunya dan tidak pernah menyetujuinya tanpa kompromi sedikitpun. Ialah disebut fitrah yang suci, dan fitrah manusia selalu seiring dengan fitrah Allah (QS. Ar Rum:30)
Jadi jika manusia mengikuti fitrahnya, maka ia akan selalu mengikuti kehendak ilahi.
Kemudian Apakah Nafs itu ??
Nafs mempunyai beberapa makna :
Pertama, Nafs yang berkaitan dan tumpuan syahwat atau hawa (hawa berasal dari bahasa Arab yang tercantum dalam Alqur'an, wanaha An nafsa `anil hawa - dan ia menahan dirinya (fiziknya) dari keinginannya (hawanya) ( An Nazi'at :40-41). Iaitu hawanya mata, hawanya telinga, hawanya mulut, hawanya kemaluan, hawanya otak dan lain-lain. Hawa-hawa atau syahwat, selalu berkecenderungan kepada asal kejadiannya iaitu sari pati tanah - dengan demikian An nafs bererti fizik (tanah yang diberi bentuk). Dia akan bergerak secara naluri mencari bahan-bahan unsur asal fiziknya, ketika kekurangan energi atau kekurangan unsur-unsur asalnya maka ia akan segera mencari atau secara naluri ia akan berkata, saya lapar, saya haus !!
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari ekstrak yang berasal dari tanah." (QS. Al Mukminun:12)
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang berstruktur (berbentuk), maka apabila Aku telah meniupkan kepadanya Roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al Hijir: 28-29)
An nafs erti fizik yang mempunyai bahan dari ekstrak tanah yang mempunyai bentuk .
Kedua, An Nafs bererti : Jiwa , - jiwa mempunyai beberapa sifat, nafs lawwamah (pencela), nafs muthmainnah (tenang), Nafs Ammarah bissu' (sentiasa menyuruh berbuat jahat).
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah ….. (QS. Al Fajr : 27-28)
Wala uqsimu binnafsil lawwamah …(QS. Al Qiyamah:2)
Wama ubarriu nafsii, innannafsa laammaratun bissuu' (QS. Yusuf:53)
Sedangkan Qalb, ertinya sifat jiwa yang berubah-ubah, tidak tetap. Terkadang ia bersifat muthmainnah, kadang juga lawwamah, atau berubah menjadi ammarah bissuu'
Watak seperti inilah yang dimaksud dengan QALB (berbolak-balik), jadi keliru kalau dikatakan qalb itu adalah wujud kerana dia bukan jiwa, akan tetapi merupakan sifatnya jiwa yang selalu berubah-rubah. Jiwa yang mempunyai sifat berubah-rubah inilah, dinamakan Qalbun !! sedangkan jiwa yang selamat disebut Qalbun salim (selamat dari sifat yang berubah-rubah) - illa man atallaha biqalbin saliim - kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (QS. Asy Syura: 89)
An nafs (jiwa ) memiliki alat-alat, Pikiran, Perasaan, Intuisi, Emosi, dan Akal. Sedangkan An Nafs (fizik ) memiliki alat-alat : Penglihatan ( mata ), Pendengaran (telinga), Perasa (lidah), Peraba, Penciuman (hidung).
Selanjutnya saya akan menguraikan kitab Barnabas berikut ini :
"…kemudian berkata Isa, demi Allah pada hadirat-Nya Rohku berdiri, banyak yang sudah tertipu mengenai kehidupan kita. Kerana demikian saling merapatnya antara Roh dan perasaan telah berhubungan bersama, hingga sebahagian besar manusia mengiakan Roh dan perasaan itu menjadi satu dan hal yang sama, hanya terbaginya dalam penugasan sedangkan tidak dalam wujud, menyebutkannya sensitive (rasa perasaan), vegetative (tubuh yang tumbuh) dan intellectual soul (Roh berfikir, cerdas akal). Tetapi sungguh aku katakan kepadamu, roh itu adalah satu, yang berfikir dan hidup. Orang-orang dungu, dimanakah akan mereka dapatkan roh akal tanpa kehidupan ? tentulah keadaan ketidak sadaran, apabila rasa perasaan meninggalkannya." Thaddeaus menjawab, "O Guru, apabila rasa perasaan ( sense) meniggalkan kehidupan (life) seorang manusia tidak mempunyai kehidupan."
Ayat diatas menjelaskan banyak orang tertipu mengenai kehidupan, sesungguhnya Roh itulah yang menyebabkan orang itu hidup dan berfikir dan memiliki perasaan (sense), tubuh yang bergerak dan tumbuh, berfikir dan berakal. Semuanya itu kerana adanya Roh. Dan Thaddeaus menyimpulkan bahawa jika manusia tidak memiliki Roh maka tidak akan ada kehidupan pada dirinya. Bererti rasa (sense) intellectual soul merupakan intrument roh.
Kemudian pada pasal 123
Ketika semua duduk, Isa berkata lagi, ALLAH kita untuk memperlihatkan kepada makhluk-makhluk-Nya kasih sayang-Nya dan rahmat serta Maha Kuasa-Nya, dengan Maha pemurah dn Maha Adil-Nya, membuat sesunan dari empat hal berlawanan yang satu dengan yang lain, lalu menyatukannya dalam suatu tujuan ahkir, itulah manusia dan ini adalah tanah, udara, air dan api. Supaya tiap-tiap satu sama lain menenangkan pertentangannya. Dan dari empat benda ini, dia menjadikan sebuah kendi (bejana) itulah tubuh manusia, daging, tulang-tulang, darah, sum-sum dan kulit dengan saraf-saraf dan pembuluh-pembuluh darah, dan dengan semua bagian-bagian dalamnya; dalam tempat itu Allah meletakkan ROH dan rasa perasaan, laksana dua tangan dari hidup ini. Memberikan tempat kepada rasa perasaan pada setiap bagian tubuh untuk itu menebarkan dirinya disana seperti minyak. Dan kepada Roh, dia memberikan untuk tempatnya hati, yang bersatu dengan perasaan, dialah akan menerima seluruh kehidupan itu.
Ayat ini menerangkan penciptaan manusia seperti terdapat di dalam Al qur'an surat Al Hijir 28-29 , sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Roh-Ku , maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud ,
Surat Al mukminun: 12 , berasal dari ekstrak tanah
Surat Al hajj : 5, manusia dari turab (berupa debu)
Surat Ar Rahman : 14 , dari tanah liat yang kering seperti tembikar.
Pasal 179, dikatakan Roh itu bersifat universal dan besarnya 1000 kali lebih besar dari seluruh bumi.
Sebenarnya pasal ini hampir sama dengan keterangan saya pada bab hakikat manusia, bahawa jiwa adalah bersifat sangat luas dengan identitas dirinya yang dipanggil sebagai feminin kerana sifatnya yang universal - Ya Ayyatun nafsul muthmainnah - wahai jiwa yang tenang. Penggunakan Ya nida'(Ayyatuha) atas jiwa sebenarnya biasa digunakan untuk memanggil wanita, juga untuk panggilan (nida') sesuatu yang sangat luas berdasarkan dalil kullu jam'in muannatsin - sesuatu yang bersifat universal atau luas disebut muannats (feminin). Misalnya, jannatun (syurga), samawat (langit), Al Ardh (bumi), Al jamiat (universitas / universal).
Hampir jarang orang menyadari akan dirinya sebenarnya sangat luas, akan tetapi kesadaran ini telah lama menyesatkan fikiran kita yang menganggap bahawa diri kita sebatas apa yang tergambar secara kasat mata saja, padahal lebih dari yang ia bayangkan, bahawa manusia baik logam, tumbuhan dan gunung adalah sebetulnya terdiri dari suatu untaian kejadian-kejadian atau proses. Dimana segala alam lahir ini tersusun oleh senyawa-senyawa kimiawi yang dinamai zarrah (atom). Dan atom-atom ini dalam analisa terakhir adalah satu unit tenaga listrik, yang energi positifnya (proton) berjumlah sebanyak energi negatifnya (electron) di dalam atom ini - setiap detik terjadi loncatan dan pancaran (chark and spark) secara terus menerus. itulah semburan-semburan yang tidak ada hentinya dari daya listrik. Manusia tidak mampu melihat semburan atau loncatan yang tidak putus-putus dengan kecepatan yang sangat luar biasa ini dengan kasat mata biasa, kecuali dengan kesadaran ilmu yang cukup - sebagaimana Al qur'an mengungkapkan tentang gunung yang dianggap oleh orang awam seperti diam tak bergerak :
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awam." (QS. An Naml:88)
Secara fizik ,manusia bersifat luas dan rohani meliputi keluasan alam semesta.
Demikian yang saya tahu, mudah-mudahan bahasa Jawa lebih memungkinkan mengisi makna bahasa Arab yang tinggi nilai balaghahnya.

@ jalan sufi

Jumaat, 25 Jun 2010

Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?

Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?
Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahawa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?

Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahawa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.

JAWAPAN
Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surah. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeza-beza itu pasti memiliki dimensi yang berbeza pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeza-beza antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan getaran dan darjat keimanan seseorang.

Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeza. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeza dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu bererti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat neraka tertentu.

Jika Naar kita maknakan secara umum, justeru menjadi zalim, kerana faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak boleh disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.

Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeza dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surah Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeza. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, kerana didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeza. Kerana yang terakhir ini berhubungan dengan kelayakan keimanan hamba kepada Allah, bahawa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.

Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahawa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kelayakan keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Roh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fizik dan siksa fizik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kelayakannya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.

Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga mahupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, kerana perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualiti moral seorang pekerja di tempat kerja juga berbeza-beza, walau pun teknik dan cara kerjanya sama.

Orang yang bekerja hanya mencari wang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan mencintai pekerjaan dan mencintai ketuanya tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualiti moral dan jadual kerjanya yang berbeza. Bagi seorang ketua yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, dibandingkan dengan para pekerja yang hanya mencari untung belaka, sehingga mereka bekerja tanpa roh dan spirit yang luhur.

Kerana itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kelayakan rohani dan spiritual yang berbeza dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeza dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan biologi seksual haiwan.

Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan darjat kema’rifatan yang berbeza-beza. Kerana nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fizik dengan kenikmatan fizik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang boleh menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam proses kema’rifatan.

Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan simbol berbeza-beza, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kelayakan yang bersifat lahiriyah mahupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka persepsi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu haiwaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang ideal dengan syahwatiyah.

Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang boleh menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kelayakan syurgawnya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Kerana hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “kerana Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira kerana syurgaNya.

Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang boleh wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?
Nah anda boleh merenungkan sendiri, betapa tundingan-tundingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, boleh terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.

Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?

Salah Faham Terhadap Dunia Sufi

Sementara kaum yang anti Tarekat Sufi merasa telah bercermin dengan benar, padahal mereka tidak mengetahui jika cermin yang digunakan itu adalah cermin yang buram, retak, dan cara bercermin yang keliru. Ketika mereka menuding orang lain, sesusungguhnya mereka sedang menuding diri sendiri.

Kata-kata yang muncul dari para Sufi sesungguhnya harus difahami menurut kesimpulan Bathiniyah dari kandung Al-Qur’an dan Sunnah. Misalnya ketika seseorang mempraktikkan Ihsan, “Seakan-akan engkau melihat Allah, dan jika tidak melihatNya, Allah melihatmu” pastilah menimbulkan pantulan cahaya Ubudiyah yang agung dengan sesuai dengan kondisi psikholohis rohani masing-masinghamba Allah. Pantulan cahaya Ilahi inilah yang tidak boleh difahami oleh orang yang tidak pernah mengalami perjalaan rohani keimanan dan keihsanan.

Mukasyafah atau keterbukaan Rahsia Ilahi adalah Hak Allah yang diberikan kepada yang dikehendakiNya. “Allah berbuat sebagaimana yang dikehendakiNya.” Termasuk menghendaki hambaNya untuk mengetahui yang ghaib, Rahsia takdir, dan Rahsia alam semesta raya, baik yang fizik maupun yang metafizik.

Diantara Rahsia yang dianugerahkan oleh Allah kepada para Sufi adalah mengenal Rahsia huruf hijaiyah dalam Al-Qur’an. Sebab, hakikat huruf-huruf itu adalah Asma’ Allah, dipastikan memiliki hubungan korelatif dan apresiatif secara berkuasa dengan kehidupan hamba, alam semesta bumi langit seisinya, dan alam akhirat, bahkan Asma’, Sifat, Af’al dan DzatNya.

Mereka menuduh bahawa kaum Sufi menjauhi Qur’an dan Hadits, lalu mendahulukan mukasyafah. Ini tuduhan yang salah benar, kerana seluruh aspek Mukasyafah sesungguhnya merupakan penafsiran dari Al-Qur’an dan Sunnah itu sendiri. Setiap Mukasyafah harus ditimbang dengan Qur’an dan Sunnah, hal demikian sangat popular di kalangan Sufi. Kerana itu dalam dunia Sufi, sangat dibezakan mana yang bisikan Jin, Syaitan, Malaikat, Ilham, dan yang langsung dari Allah.

Ibnu Abbas ra, sendiri telah menegaskan bahawa dirinya diberi Ilmu oleh Allah Ta’ala, sebahagian boleh disebarkan (umum), dan sebahagian bila disebarkan justeru ia akan dikafirkan dan dibunuh oleh banyak orang. Ertinya, aspek Mukasyafah sangatlah individual, dan memang tidak boleh diungkapkan kecuali pada ahlinya atau orang tertentu yang relevan dengan manfaat dunia akhiratnya.

Mengenai Wihadatul Wujud, Hulul, Al-Faidl (ilmuniasi), sesungguhnya justeru tidak ada dalam dunia Sufi. Yang ada adalah Widatus Syuhud. Orang yang pertama kali mengatakan Wahdiatul Wujud adalah Ibnu Taymiyah yang memang anti dengan pengalaman Dunia Sufi. Ia menuduh Sufi itu Wahdiatul Wujud, sebuah tundingan yang jauh dari pengalaman rohani Sufistik. Kerana Wahdiatul Wujud sering diertikan dengan panteisme, sedang konsep Sufi tentang penyatuan hamba dan Allah jauh dari panteisme. Penyatuan itu bersifat rohani dan musyahadah (penyaksian mata hati, mata ruh dan mata Rahsia batin. Bukan wujud fizik. Hal demikian pun diurai secara lembut melalui kaedah-kaedah Sufi agar tidak menyimpang dari Tauhid, sebagaimana dijelaskan secara rinci oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam kitab Al-Hikam.

Kalau kita membaca Al-Qur’an dengan pandangan kulitnya, formula dan penafsiran ayat belaka, maka kita pun ketika memahami wacana Sufi juga akan terjebak sedemikian rupa. Kerana itu dalam tradisi Sufi harus ada Mursyid Kamil Mukammil yang membimbing, agar mereka tidak terkena ghurur (tipudaya) dalam menempuh perjalanan menuju kepada Allah. Tidak begitu mudah orang memahami pandangan Ibnu Araby, Abu Yazid al-Bisthamy, Junaid al-Baghdady, Bisyr Al-Hafy, Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, Abdul Karim al-Jily, Al-Hallaj, maupun Abul Hasan asy-Syadzily.

Bagaimana anda boleh memahami erti tenggelam di lautan, sementara anda belum pernah tenggelam, dan hanya mendengarkan kisah tentang orang tenggelam saja?
Tiba-tiba anda sudah merasa tenggelam?

Mengenai akidah Sufi tentang Rasulullah, tentang para Wali, tentang Fir’aun dan Iblis, Syurga dan neraka, bahkan pengalaman-pengalaman para Sufi akan kita jawab secara bersambung di edisi berikutnya.


Tuduhan terhadap Dunia Wali
Mereka menuduh kaum Sufi, dengan suatu tundingan keliru. Diantara tundingan mereka yang kontra pada dunia Sufi, tentang Kewalian antara lain:
1. Sufi dituduh mengutamakan Wali daripada Nabi.
2. Para Wali dianggap sama dengan Allah dalam setiap sifatNya, bermula dari salah paham mereka mempersepsi tentang ragam dunia Wali dengan tugas-tugas rohani masing-masing, seakan-akan tugas itu menyamai tugas Allah.
3. Para Wali seperti memiliki dewan, majlis, berkumpul di gua Hira untuk menunggu takdir.

Tiga tundingan itulah yang membuat orang salah paham terhadap dunia Sufi.


JAWAPAN
Ummat Islam sepakat adanya para Auliya' atau kekasih-kekasih Allah. Bahkan mereka yang kontra terhadap dunia Tasawuf pun memiliki definisi khusus, menurut penafsiran rasmi mengenai para Wali ini, yang tentu saja berbeza jauh antara langit dan bumi dengan pemahaman kaum sufi.

1. Kaum Sufi tidak pernah menempatkan darjat para Wali lebih unggul dibanding para Nabi dan Rasul. Para Auliya adalah sebagai pewaris dan pemegang amanah Risalah setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Sebagai Khalifah dan sekaligus juga sebagai pewaris Nubuwwah. Jika, muncul ungkapan-ungkapan kehebatan para Auliya dalam kitab-kitab Tasawuf, sama sekali tidak ada satu pun kata atau isyarat yang menunjukkan keunggulan maqam Auliya' dibanding maqam Anbiya dan Rasul. Semata hanya ingin memperkenalkan jika para Auliya' diberi karomah (hal-hal yang di luar nalar akal rasional) oleh Allah swt, apalagi para Anbiya dan Mursalin.

2. Para Sufi yang diangkat darjatnya oleh Allah meraih maqam Kewalian atas KehendakNya, diberi anugerah, fadlal dan rahmatNya, menurut kehendakNya. Kesalahpamahan mereka yang kontra terhadap dunia Wali semacam ini bersumber pada fenomena karomah, fenomena hikmah-hikmah terdalam yang tidak boleh dipahami oleh mereka, kerana hanya merujuk pada teks Qur'an dan Hadits tanpa mengenal hakikat kedalaman dibalik ayat-ayat Al-Qur'an dan Sunnah itu.

Apakah anda tega menyalahkan Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, Abul Hasan Asy-Syadzily, Hujjatul Islam al-Ghazaly, Ibnu Araby. Al-Bisthamy, Asy-Syibly, Junaid al-Bahgdady, para Imam Mazhab, yang sangat terkenal sebagai para Auliya' Allah, dan sama sekali mereka jauh dari persepsi anda tentang kewalian itu?

Padahal mereka adalah para penjaga Al-Qur'an dan as-Sunnah, para pelestari tradisi Syariat, Tarekat dan hakikat Risalah Nabi besar Muhammad SAW.

Jadi jika ada Istilah Abdal sebagaimana juga pernah disebut oleh Nabi Muhammad SAW, tentu saja, tidak gampang memahami tugas-tugas para Wali itu. Sedangkan siapa pun dalam menjelajah dunia rohani, metafizika, dunia hakikat sentiasa justeru akan diolah (tersesat) sepanjang perjalanannya tidak dibimbing oleh Wali yang Mursyid, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Siapa yang sesat (jalan menuju kepada Allah) maka ia tidak akan pernah menemukan Wali yang Mursyid".

Kriteria Wali Mursyid tentu tidak sesederhana yang mereka pahami. Kata Iman dan Taqwa saja, sangat berlapis-lapis kedalamannya, dan beragam pula wilayah implementasinya dalam dunia jiwa para hamba Allah. Apakah sebegitu mudah orang mengaku menjadi Wali Allah, hanya kerana merasa beriman dan merasa bertaqwa dan bahkan mengaku merasa dirinya beramal soleh?

Sedangkan tahap agar hamba Allah boleh bebas dari rasa takut dan gelisah saja sulitnya bukan main. Gelisah terhadap cubaan dunia dan cubaan akhirat, takut terhadap fitnah dunia dan siksa akhirat, pun manusia akan sulit membebaskan psikhologinya. Padahal para Wali itu tidak pernah takut dan tidak pernah susah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an.

Inilah yang dipresentasikan dunia Tasawuf sebagai tradisi ilmu-ilmu Islam bidang hakikat, yang juga boleh difahami manaka melalui pendekatan hakikat pula, dengan logika bathiniyah yang suci. Sebab wilayah hakikat bukanlah wilayah rasional ujian, juga bukan wilayah inderawi. Itu pun harus dalam bimbingan mereka yang telah meraih kesempurnaan hakikat sebagai Insan Kamil.

Kerana itu Ibnu Araby, membagi komuniti para auliya’ menurut komuniti kebajikan yang disebut dalam berbagai ayat Al-Qur'an, semisal, komuniti Sholihun, Muhsinun, Shobirun, Syakirun, Dzakirun, Mujahidun, Muttaqun, 'Aminun, Mukhlishin, Mukhlashin, 'Abidun, dan ratusan komuniti Sholeh disana yang tentu saja, merupakan kelayakan moral yang begitu dalam. Jika Allah menyebutkan suatu kelompok moral, dengan menggunakan istilah tertentu, pasti memilki Rahsia tertentu pula. Kata Robb, beza dengan kata Ilah, beza lagi dengan penyebutan yang menggunakan Sifat dan Asma' sepetri Al-Khaliq, Al-Bari', al-Mushowwir, misalnya.

Munculnya istilah Ghauts, Quthub, Abdal, Nuqaba', Nujaba', tentu memiliki dasar-dasar yang tersirat dalam Al-Qur'an dan Sunnah, dan tugas-tugas amanah kewaliyan mereka tentu Allah sendiri Yang Maha Tahu, yang dengan KemahakuasaanNya, dan Irodah MutlakNya, memberikan wewenang dan tugas khusus. Dan semua tugas itu juga dalam rangka meneruskan amanah Rasul SAW.

3. Soal adanya dewan para Wali, sesungguhnya juga tidak boleh disamakan sebagaimana kita memahami majlis sosial politik, dengan dewan pimpinan tertentu itu, dengan cara pemilihan ketua dewan atau ketua organisasi. Bahawa dalam dunia Kewalian ada hirarki struktur secara rohani, pasti sangat berbeza hirarki strukturalnya dengan dunia sosial manusiaw. Kalau suatu saat memang ada tugas bermajlis di gua Hira', itu bukan suatu tugas yang boleh dinilai sebagaimana berkumpulnya sebuah majlis PBB atau lainnya. Namun, kerana tugas kasuistis, menyangkut perkara moralitas ummat manusia di dunia, bahkan yang hidup maupun yang sudah mati, yang begitu tampak jelas dalam Alam Mukasyafah mereka, melalui Nur Ilahi.

Tetapi wajar jika anda mempersoalkan, adanya kelompok tertentu yang mengaku dewan para wali, lalu membuat pertemuan alam ghaib, lalu mereka merasa sebagai para wali, padahal tidak lebih dari sebuah tipudaya alam Jin dan Iblis, boleh saja demikian. Kerana Iblis dan Syaitan pun punya kelompok tandingan Wali yang disebut dalam Al-Qur'an "Auliya' as-Syayathin". Atau para Wali Syaitan, yang seringkali menggunakan jubah agama. Mereka berjubah, tapi penuh dengan kebusukan, ketakaburan, riya' dan 'ujub, hubbud dunya (cinta dunia), penghamba nafsu dan takut mati.

Namun alangkah piciknya kita kalau memahami dunia Wali dari sekadar gelombang sosial ummat atau dari fenomena keagamaan (khususnya di bidang bathiniyah), lalu anda membuat kesimpulan gradual, kesimpulan salah kaprah, sebagaimana para orientalis dan pengamat Sufi yang lebih banyak salah kaprahnya dalam memaknai istilah dan terminologi Sufi itu sendiri. Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thoriq, wallahu A'lam bish-Showab.

Syaitan...

Syaitan...



Syaitan adalah keturunan yang berasal dari iblis. Iblis berkahwin dgn jin perempuan yang merupakan pengikutnya lalu dianugerahkan keturunan yang dikenali sebagai syaitan. Iblis pula adalah dari keturunan jin, merupakan moyang kepada syaitan dan pemimpin bagi syaitan dan jin kafir. Syaitan juga mempunyai kota yg menjadi tempat tinggal mereka.Kota-kota mereka terletak di-padang padang pasir,gunung ganang, pulau pulau terpencil dan di permukaan laut. Tempat tempat yg menjadi kegemaran para syaitan duduk beristirehat dan bermain main adalah didalam perigi yang kosong, tempat terdapatnya najis dan tempat membuang kotoran.

Iblis memiliki kerajaan yg besar yg terdiri dari menteri menteri, pemerintah, wakil wakil dan rakyat jelata. Di antara mereka terdapat 5 jenis iblis yang paling kuat pengaruhnya dan wajib sesaorang itu berwaspada dgnnya.

1) Iblis yg bernama Tsabar. Iblis ini sering mengunjungi orang orang yang sedang dalam kesusahan ataupun yang ditimpa musibah. Ia akan membisikkan kata kata yg tanpa disedari telah diucapkan oleh orang yg mengalami kesusahan itu. Orang yg telah ditimpa musibah akan berkeluh kesah dan sering menyalahkan ketentuan Allah terhadap dirinya. Inilah peranan iblis
Tsabar dalam menyesatkan manusia.

2) Iblis yg bernama Dasim. Iblis ini akan berusaha memusnahkan kerukunan sesebuah rumahtangga. Ia akan menyuburkan perasaan benci, cemburu dan rasa curiga di antara pasangan suami isteri. Apabila terjadi demikian, maka terjadilah pertengkaran di antara suami dan isteri lalu diakhiri dengan perceraian.

3) Iblis yang bernama Al A'war. Iblis ini menggalakkan perlakuan zina dan keruntuhan akhlak. Salah satu peranannya ialah dengan menjadikan indahnya bahagian bawah seseorang wanita. Lebih lebih lagi terdapat segelintir wanita masa kini yg gemar memakai pakaian yang singkat dan seksi. Sesungguhnya ini cukup menggembirakan iblis Al A'war kerana dapat menlaksanakan tugasnya dengan sempurna.

4) Iblis yg bernama Maswath. Peranan iblis ini adalah mengadakan pembohongan yang besar dan kecil. Seseorang yang termakan dengan bisikan iblis ini akan mereka reka sebuah cerita yg tidak benar ataupun menyebar fitnah.

5) Iblis ini pula suka berkeliaran ditempat tempat yg dipenuhi dgn manusia. Ia akan membisikkan kata kata yg mewujudkan permusuhan dan perselisihan sesama manusia.Sehingga ada di antara manusia yg sanggup membunuh sesama sendiri.

Wassalaam.