"Hari ini (22 Mac 2004) genap 8 tahun perginya Sheikh Ahmad Yaasin sebagai seorang syahid. Secara ringkas, kita mengambil 8 iktibar dari kesyahidannya:
1. Kematian adalah satu kemestian. Semua yang hidup akan mati. Kubur sebagai tempat persinggahan dan laluan ke akhirat adalah pasti. Soalnya, mati itu bagaimana?
Ada yang mati sebagai pemimpin zalim yang dibenci. Ada yang mati sebagai selebriti yang ditangisi tetapi hakikatnya ia menangisi dirinya sendiri. Ada yang mati sebagai hamba Allah yang sejati. Dan ada yang syahid, rohnya riang gembira di syurga walaupun jasadnya berderai merata dan darahnya memenuhi bumi. Assyahid Sheikh Ahmad Yaasin meninggal hari Isnin dalam keadaan berpuasa, awal subuh dinihari.
2. Jika Allah menyayangi anda, Allah akan memberikan husnulkhatimah buat anda. Tiada kesudahan paling baik melainkan mati syahid. Kurang sedikit, mati dalam situasi taatkan Allah secara umum.
3. Kasih sebenar Sheikh Ahmad Yaasin adalah kepada Allah, NabiNya dan Islam. Allah menjadikan kematiannya sebagai suatu yang besar. Lebih 200 ribu mengiringi jenazahnya. Umat Islam seluruh dunia bercerita tentang kematiannya. Majlis Keselamatan PBB mengutuk pembunuhannya. Kerajaan Arab juga demikian. Eropah juga tidak berkecuali bercakap mengenainya. Sheikh Ahmad Yaasin bukannya menteri, tidak juga raja atau pembesar tetapi ketokohannya sebagai pemimpin Islam menjadikan kawan dan lawan memandang hebat kepadanya.
4. Permusuhan dan pertembungan kita dengan Yahudi yang memusuhi kita, regim Zionis dan semua proksi mereka adalah berterusan sekalipun pelbagai perjanjian ditandatangani, pelbagai persidangan dan seminar dilihat di tv dan pelbagai kata manis dari Amerika dan Eropah dijanji.
5. Sekalipun umat Islam lemah, hanya melihat pemimpin gerakan Islam mereka dibunuh, atau hanya mampu berdemonstrasi menyatakan kebencian kepada musuh, namun untuk menyerah kalah, menggadaikan prinsip perjuangan, mengiakan segala perjanjian zalim dengan regim yang zalim tidak sekali.
6. Untuk menggerakkan ummah, tidak perlu kelayakan akademik yang tinggi-PhD, MA, BA atau jawatan-jawatan yang hebat. Bacalah kelayakan akademik As-syahid Sheikh Ahmad Yaasin yang sederhana sahaja.
7. Peranan musuh dalam selimut sangat bahaya. Tidak mungkin Sheikh Ahmad Yaasin boleh dibunuh sedemikian rupa seperti pemimpin Palestin yang lain, kalau tidak dengan kerjasama dan maklumat dari ‘orang dalam’ atau dari kalangan munafiq dalam masyarakat Islam itu sendiri.
8. Perjuangan Islam tidak terhenti dengan syahid dan matinya pemimpin. Rasulullah SAW wafat, para sahabat meninggal, para ulama dan pejuang Islam terdahulu telah menunaikan janji masing-masing dengan Allah. Nabi SAW memberi khabar gembira dengan adanya umat ini yang terus melangsungkan perjuangan menegakkan Islam sehingga berlaku antara 2 ketentuan-menang atau syahid.
Jumaat, 23 Mac 2012
Sheikh Ahmad Yaasin
Jumaat, 24 Februari 2012
LARANGAN TEGAS ALLAH dari kita mentaati serta mengikut golongan ini:
LARANGAN TEGAS ALLAH dari kita mentaati serta mengikut golongan ini:
Firman Allah: maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah - yakni orang yang apabila Allah perintah solat, dia tidak solat, perintah menutup aurat dia engkar, jangan boros, itu hobi dan kegemarannya)
Firman Allah: Dan jangan kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina (mereka suka mempermainkan sumpah tatkala datang tuduhan ke atas mereka atau ketika mereka ingin menuduh sesuatu pihak yang lain. Mereka mengambil pendekatan ini bagi mengelak dari mengadakan 4 saksi yang tidak fasik sebagaimana yang diperintah Allah)
Firman Allah: (jangan ikuti mereka) yang banyak mencela, yang kian kemari (kesana kemari) menghambur fitnah. (Mereka ini akan terus menerus memfitnah musuh mereka tanpa hentinya melalui hebahan media massa bagi mengelirukan umum selagi orang-orang itu memberi cabaran dan menimbulkan masalah terhadap mereka dalam kerja atau usaha yang mereka pelopori termasuklah dalam berpolitik)
Demi keselamatan hidup kalian di dunia dan akhirat, janganlah lagi kalian mengikuti serta taat kepada mereka yang mempunyai ciri-ciri sebagaimana yang telah Allah sebutkan dalam firman-firman-Nya dalam surah AL QALAM:8, 10, 11
Firman Allah: maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah - yakni orang yang apabila Allah perintah solat, dia tidak solat, perintah menutup aurat dia engkar, jangan boros, itu hobi dan kegemarannya)
Firman Allah: Dan jangan kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina (mereka suka mempermainkan sumpah tatkala datang tuduhan ke atas mereka atau ketika mereka ingin menuduh sesuatu pihak yang lain. Mereka mengambil pendekatan ini bagi mengelak dari mengadakan 4 saksi yang tidak fasik sebagaimana yang diperintah Allah)
Firman Allah: (jangan ikuti mereka) yang banyak mencela, yang kian kemari (kesana kemari) menghambur fitnah. (Mereka ini akan terus menerus memfitnah musuh mereka tanpa hentinya melalui hebahan media massa bagi mengelirukan umum selagi orang-orang itu memberi cabaran dan menimbulkan masalah terhadap mereka dalam kerja atau usaha yang mereka pelopori termasuklah dalam berpolitik)
Demi keselamatan hidup kalian di dunia dan akhirat, janganlah lagi kalian mengikuti serta taat kepada mereka yang mempunyai ciri-ciri sebagaimana yang telah Allah sebutkan dalam firman-firman-Nya dalam surah AL QALAM:8, 10, 11
Rabu, 22 Februari 2012
Selasa, 21 Februari 2012
Khamis, 30 Jun 2011
Kebahagiaan Seindah Harapan
Ketika itu ufuk awan dipenghujung memerah menghiasi cakrawala. Mentari condong ke barat tenggelam. Sementara pepohonan melambai seakan mengikuti irama. Anak-anak Amalia dengan wajah sumringah menghiasi indahnya malam. melantunkan ayat suci al-Quran terasa meresap dalam jiwa. Seorang Ibu muda bersama suami dan anak-anaknya berkenan hadir ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh sebagai tanda syukur kepada Allah setelah keluarganya mampu melewati badai kehidupan. Tujuh tahun membina kehidupan rumah tangga tidaklah mudah. penuh ujian dan cobaan datang setiap saat. Untunglah bahwa beliau menyadari tempat untuk berteduh hanyalah berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat hatinya menjadi tegar menghadapi berbagai masalah kehidupan
Pernikahannya hampir kandas. Suaminya tiba-tiba berhenti bekerja, terkena pemutusan kerja sepihak dari perusahaannya bekerja. Keributan seringkali terjadi. dalam keadaan seperti itu hatinya menjadi galau dan gundah, dirinya menyerahkan segala permasalahan hidupnya kepada Allah. berkat kerja kerasnya kebutuhan keluarganya bisa diatasinya. Bagaikan berjalan dengan 'kaki sebelah' perlahan-lahan kondisi ekonomi keluarganya bisa bangkit membaik. Usaha yang dirintisnya berkembang pesat mengalami kemajuan. Bahkan order pesanan datang dari luar kota.
Sampai pada suatu peristiwa yang membuat hatinya terkejut, putrinya yang bungsu jatuh sakit terkena step dan paru-parunya infeksi. Pada saat itu juga dilarikan putrinya ke rumah sakit. Menjelang adzan subuh, putrinya selamat tanpa harus dilakukan operasi. Dokter mengatakan hanya pertolongan Allah yang mampu menyelamatkan putrinya, mendengar itu air matanya meleleh. Allah memberikan ujian dan cobaan bertubi-tubi namun dirinya dan keluarganya mampu melewati semua itu dengan penuh kesabaran.
'Saya bersimpuh memohon ampun kepada Allah, saya percaya Allah yang mengatur semua ini agar menjadi ladang bagi kami dan keluarga kami untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah' ucapnya, wajahnya memerah berlinangan air mata. Kehidupan keluarganya memancar kebahagiaan. Ya, sebuah kebahagiaan seindah harapan.
--
'Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.' (QS. Ath-Thalaq 2-3).
Wassalam,
Pernikahannya hampir kandas. Suaminya tiba-tiba berhenti bekerja, terkena pemutusan kerja sepihak dari perusahaannya bekerja. Keributan seringkali terjadi. dalam keadaan seperti itu hatinya menjadi galau dan gundah, dirinya menyerahkan segala permasalahan hidupnya kepada Allah. berkat kerja kerasnya kebutuhan keluarganya bisa diatasinya. Bagaikan berjalan dengan 'kaki sebelah' perlahan-lahan kondisi ekonomi keluarganya bisa bangkit membaik. Usaha yang dirintisnya berkembang pesat mengalami kemajuan. Bahkan order pesanan datang dari luar kota.
Sampai pada suatu peristiwa yang membuat hatinya terkejut, putrinya yang bungsu jatuh sakit terkena step dan paru-parunya infeksi. Pada saat itu juga dilarikan putrinya ke rumah sakit. Menjelang adzan subuh, putrinya selamat tanpa harus dilakukan operasi. Dokter mengatakan hanya pertolongan Allah yang mampu menyelamatkan putrinya, mendengar itu air matanya meleleh. Allah memberikan ujian dan cobaan bertubi-tubi namun dirinya dan keluarganya mampu melewati semua itu dengan penuh kesabaran.
'Saya bersimpuh memohon ampun kepada Allah, saya percaya Allah yang mengatur semua ini agar menjadi ladang bagi kami dan keluarga kami untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah' ucapnya, wajahnya memerah berlinangan air mata. Kehidupan keluarganya memancar kebahagiaan. Ya, sebuah kebahagiaan seindah harapan.
--
'Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.' (QS. Ath-Thalaq 2-3).
Wassalam,
Khamis, 5 Mei 2011
SINGA ALLAH
Ali bin Abi Talib adalah khalifah ke-4 yang dilantik selepas mendapat sokongan majoriti. Beliau dilantik menjadi khalifah pada tahun 35 Hijrah. Beliau dilahirkan pada tahun 602 Masihi.
Beliau berasal daripada Bani Hasyim yang berketurunan Quraisy. Beliau ialah sepupu dan menantu Nabi Muhammad. Beliau ialah suami Fatimah bin Muhammad dan juga pemuda pertama yang memeluk Islam.
Nabi Muhammad menggelarkannya Zu al-Fiqar kerana keberanian dan sifat kepahlawanannya yang terserlah. Beliau juga mendapat gelaran Asad Allah yang bermaksud Singa Allah.
Ali meninggal dunia pada 40 Hijrah kerana ditikam oleh Abdullah bin Maljam iaitu salah seorang daripada golongan Khawarij.
Menurut cerita, Khalifah Ali kehilangan sepasang pakaian perang. Puas beliau mencarinya tetapi masih tidak jumpa pakaian perang tersebut. Pada suatu hari, Khalifah Ali ternampak seorang lelaki Nasrani memakai pakaian perang itu. Ali dapat mengecam pakaian perang itu benar-benar kepunyaannya.
“Tahukah kamu, pakaian perang yang kamu pakai itu adalah milik saya,” kata Ali kepada orang Nasrani itu.
“Pakaian perang itu milik saya,” ulang Ali lagi.
“Tidak. Pakaian perang ini adalah milik saya,” jawab orang Nasrani itu.
Ali tidak berputus asa lalu berkata, “Serahkan semula pakaian perang itu kepada saya. Sudah lama saya mencari pakaian perang itu”.
“Tidak. Saya tidak mahu serahkan pakaian perang ini kepada kamu,” kata lelaki Nasrani itu.
Lelaki Nasrani itu tetap dengan pendiriannya. Beliau tidak mahu menyerahkan pakaian perang itu walaupun sudah berkali-kali di minta oleh Ali.
“Sekiranya begitu kata kamu, mari kita pergi ke mahkamah. Di sana, pihak pengadilan dapat menentukannya,” kata Ali.
“Baik, saya setuju. Mari kita pergi berjumpa dengan tuan hakim,” jawab lelaki Nasrani itu.
Kemudian, mereka berjumpa dengan hakim yang bernama Kadi Syuraih. Beliau adalah seorang hakim yang adil dan bijaksana. Sampai sahaja di mahkamah itu, Ali berkata kepada tuan hakim, “Saya tidak pernah memberikan pakaian perang itu kepada orang lain. Saya rasa pakaian perang yang dipakai oleh lelaki Nasrani itu adalah milik saya. Saya dapat mengenali pakaian perang tersebut”.
Mendengar penjelasan Ali, hakim menyoal pula orang Nasrani itu, “Adakah benar seperti yang dikatakan oleh Ali tadi”.
Lelaki Nasrani itu menjawab, “Pakaian perang itu milik saya”. Lelaki Nasrani itu masih tetap dengan pendiriannya menyatakan pakaian perang itu miliknya.
Tuan hakim menjalankan tugasnya dengan adil. Bagi mendapatkan kepastian, tuan hakim bertanya pula kepada Ali, “Bolehkah kamu berikan bukti? Bukti yang menunjukkan bahawa pakaian perang itu milik kamu dan bukan milik lelaki Nasrani itu”.
Tuan hakim itu memang seorang yang adil dan bijaksana. Ali berkata, “Saya tidak mempunyai sebarang bukti”.
Keputusan mahkamah dibuat. Orang Nasrani itu tidak bersalah. “Saya memutuskan bahawa pakaian perang itu adalah milik orang Nasrani dan bukan milik Ali,” kata tuan hakim.
Keputusan mahkamah adalah muktamad. Ali dan orang Nasrani itu keluar daripada persidangan mahkamah. Di luar kawasan mahkamah, lelaki Nasrani itu berjumpa Ali.
“Keputusan yang dijatuhkan oleh tuan hakim adalah muktamad. Tuan hakim hanya menjalankan tugasnya dengan seadil-adilnya. Kamu memang seorang yang jujur dan sabar. Mulai pada hari ini, saya mengaku bahawa tiada tuhan yang disembah selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah pesuruh Allah,” kata orang Nasrani itu di hadapan Ali.
Ali mendengar dengan teliti. Kemudian, lelaki Nasrani itu menceritakan kisah sebenar mengenai pakaian perang yang dipakainya itu.
“Pakaian perang ini saya terjumpa ketika kamu pergi ke Perang Siffin. Pakaian perang ini terjatuh daripada kenderaan yang kamu naiki. Lalu saya mengambil pakaian perang itu.
“Saya pakai pakaian perang ini dan menjadi milik saya. Tetapi sekarang pakaian perang ini bukan milik saya lagi. Pakaian perang ini adalah milik kamu. Ambillah,” kata lelaki Nasrani itu.
Mendengar penerangan lelaki Nasrani itu, Ali kagum dengan sikapnya yang jujur itu.
Kemudian Ali berkata kepada lelaki Nasrani itu, “Kamu memang seorang yang jujur. Sekarang kamu sah menjadi orang Islam. Ambillah pakaian perang ini.
“Saya beri pakaian perang ini kepada kamu. Sekarang pakaian perang ini sah menjadi milik kamu”.
Demikianlah sikap jujur, amanah dan suka bertoleransi di antara satu sama lain. Sikap bertoleransi, jujur dan amanah terhadap orang lain akan mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan di kalangan manusia sejagat.
Beliau berasal daripada Bani Hasyim yang berketurunan Quraisy. Beliau ialah sepupu dan menantu Nabi Muhammad. Beliau ialah suami Fatimah bin Muhammad dan juga pemuda pertama yang memeluk Islam.
Nabi Muhammad menggelarkannya Zu al-Fiqar kerana keberanian dan sifat kepahlawanannya yang terserlah. Beliau juga mendapat gelaran Asad Allah yang bermaksud Singa Allah.
Ali meninggal dunia pada 40 Hijrah kerana ditikam oleh Abdullah bin Maljam iaitu salah seorang daripada golongan Khawarij.
Menurut cerita, Khalifah Ali kehilangan sepasang pakaian perang. Puas beliau mencarinya tetapi masih tidak jumpa pakaian perang tersebut. Pada suatu hari, Khalifah Ali ternampak seorang lelaki Nasrani memakai pakaian perang itu. Ali dapat mengecam pakaian perang itu benar-benar kepunyaannya.
“Tahukah kamu, pakaian perang yang kamu pakai itu adalah milik saya,” kata Ali kepada orang Nasrani itu.
“Pakaian perang itu milik saya,” ulang Ali lagi.
“Tidak. Pakaian perang ini adalah milik saya,” jawab orang Nasrani itu.
Ali tidak berputus asa lalu berkata, “Serahkan semula pakaian perang itu kepada saya. Sudah lama saya mencari pakaian perang itu”.
“Tidak. Saya tidak mahu serahkan pakaian perang ini kepada kamu,” kata lelaki Nasrani itu.
Lelaki Nasrani itu tetap dengan pendiriannya. Beliau tidak mahu menyerahkan pakaian perang itu walaupun sudah berkali-kali di minta oleh Ali.
“Sekiranya begitu kata kamu, mari kita pergi ke mahkamah. Di sana, pihak pengadilan dapat menentukannya,” kata Ali.
“Baik, saya setuju. Mari kita pergi berjumpa dengan tuan hakim,” jawab lelaki Nasrani itu.
Kemudian, mereka berjumpa dengan hakim yang bernama Kadi Syuraih. Beliau adalah seorang hakim yang adil dan bijaksana. Sampai sahaja di mahkamah itu, Ali berkata kepada tuan hakim, “Saya tidak pernah memberikan pakaian perang itu kepada orang lain. Saya rasa pakaian perang yang dipakai oleh lelaki Nasrani itu adalah milik saya. Saya dapat mengenali pakaian perang tersebut”.
Mendengar penjelasan Ali, hakim menyoal pula orang Nasrani itu, “Adakah benar seperti yang dikatakan oleh Ali tadi”.
Lelaki Nasrani itu menjawab, “Pakaian perang itu milik saya”. Lelaki Nasrani itu masih tetap dengan pendiriannya menyatakan pakaian perang itu miliknya.
Tuan hakim menjalankan tugasnya dengan adil. Bagi mendapatkan kepastian, tuan hakim bertanya pula kepada Ali, “Bolehkah kamu berikan bukti? Bukti yang menunjukkan bahawa pakaian perang itu milik kamu dan bukan milik lelaki Nasrani itu”.
Tuan hakim itu memang seorang yang adil dan bijaksana. Ali berkata, “Saya tidak mempunyai sebarang bukti”.
Keputusan mahkamah dibuat. Orang Nasrani itu tidak bersalah. “Saya memutuskan bahawa pakaian perang itu adalah milik orang Nasrani dan bukan milik Ali,” kata tuan hakim.
Keputusan mahkamah adalah muktamad. Ali dan orang Nasrani itu keluar daripada persidangan mahkamah. Di luar kawasan mahkamah, lelaki Nasrani itu berjumpa Ali.
“Keputusan yang dijatuhkan oleh tuan hakim adalah muktamad. Tuan hakim hanya menjalankan tugasnya dengan seadil-adilnya. Kamu memang seorang yang jujur dan sabar. Mulai pada hari ini, saya mengaku bahawa tiada tuhan yang disembah selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah pesuruh Allah,” kata orang Nasrani itu di hadapan Ali.
Ali mendengar dengan teliti. Kemudian, lelaki Nasrani itu menceritakan kisah sebenar mengenai pakaian perang yang dipakainya itu.
“Pakaian perang ini saya terjumpa ketika kamu pergi ke Perang Siffin. Pakaian perang ini terjatuh daripada kenderaan yang kamu naiki. Lalu saya mengambil pakaian perang itu.
“Saya pakai pakaian perang ini dan menjadi milik saya. Tetapi sekarang pakaian perang ini bukan milik saya lagi. Pakaian perang ini adalah milik kamu. Ambillah,” kata lelaki Nasrani itu.
Mendengar penerangan lelaki Nasrani itu, Ali kagum dengan sikapnya yang jujur itu.
Kemudian Ali berkata kepada lelaki Nasrani itu, “Kamu memang seorang yang jujur. Sekarang kamu sah menjadi orang Islam. Ambillah pakaian perang ini.
“Saya beri pakaian perang ini kepada kamu. Sekarang pakaian perang ini sah menjadi milik kamu”.
Demikianlah sikap jujur, amanah dan suka bertoleransi di antara satu sama lain. Sikap bertoleransi, jujur dan amanah terhadap orang lain akan mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan di kalangan manusia sejagat.
Label:
ali bin abi talib,
allah,
khalifah,
sing,
singa allah
Langgan:
Catatan (Atom)